19 Maret 2012

Gigi ku Sayang Gigi ku Malang

Walaupun dalam medical test yang diberikan oleh quantum tidak diharuskan untuk memeriksakan gigi, tapi saya tetap datang ke salah satu klinik bersama oleh dokter gigi dan dokter bedah mulut di jalan diponegoro denpasar.

Keresahan akan gigi geraham sebelah kanan bawah saya yang dulunya berlubang dan sempat di tambal membuat saya semakin ingin segera mengetahui apa kata dokter tentang hal ini. Tapi dalam hati saya sebenarnya sudah tahu bahwa ini pasti akan dicabut. Meskipun sudah di tambal tetapi sekitar 6 bulan yang lalu tambalan itu lepas. Akhirnya lubang besar mengaga di gigi saya itu.

Datang sekitar jam 7 malam. Klinik si dokter gigi itu sudah penuh sekali. Maklum, mungkin dokter ini favorit karena service giginya yang terbaik di Denpasar (versi dewa setiawan). Langsung menuju bagian receptionist dan melakukan registrasi. Mengisi ini itu dan akhirnya dapat nomer antrian 20. Di ruang tunggu klinik ini ada banyak bahan bacaan. Dari mulai majalah, Koran, brochure, hingga buku-buku tentang kesehatan gigi dan mulut tersaji lengkap dan rapi di meja.

Terlihat sekali bahwa budaya membaca dikalangan masyarakat Indonesia itu masih kurang. Dari sekian banyak orang yang mengantre, tak satupun mau membaca buku. Alasan klasikpun timbul dari benak saya. Mungkin karena mereka nahan sakit, jadi malas membaca. Berbeda halnya dengan handphone. Memang benda itu seperti iklan rexona (setia setiap saat).

Ok.. giliran saya dipanggil nie..! menuju ke ruang dokter dengan perasaan dag dig dug, ternyata didalam dokter tidak sendiri. Ada sekitar 5 dokter pendamping si dokter utama hihi jadi tambah grogi ni hahaha..

Duduk di kursi dengan berbagai perlengkapan periksa gigi. Kemudian si dokter bertanya “giginya kenapa dewa?”, dengan nada malu malu kucing saya menjawab “ anu dok,, gigi saya berlubang.. sudah di tambal tapi lepas lagi”, “coba buka mulutnya..” kata dokter..

Kejadian ini yang paling menegangkan hihihi, setelah di cek akhirnya dokter mengatakan “wah.. harus di cabut nie “ karena mulut masih terbuka, jadi saya manggut-manggut saja. Dokter itu seperti mengambil alat dengan jarum suntik (ternyata itu bius). Menyuntikannya beberapa kali ke gusi saya. Hingga mulutpun seperti mati rasa.

Satu orang dokter memegangi kepala saya. Dokter utama beraksi mencabut gigi saya dokter lain mempersiapkan obat dll. Pokonya seru dan menegangkan lah haha..! sekitar sepuluh detik gigi saya telah tercabut. Meskipun telah dibius tapi rasanya masih sedikit sakit. Darah segar juga terus mengalir. Tapi kemudian bekas cabutan itu di tutup dengan gulungan perban berisi bius lagi mungkin hihi.. kata dokter saya harus gigit terus gulungan perban di bekas cabutan itu sampai 1 stengah jam.

Ada satu dokter perempuan yang mengatakan “ini giginya mau dibawa pulang??” hahaha dengan menahan sakit tapi saya masih bisa tersenyum sambil mengatakan “nggak usah dok.. buat dokter aja dah.. “ hahahahahaha….

Artikel Terkait Lainnya Seputar:



0 komentar:

Posting Komentar

cari artikel menarik disini